Tulisan ini merupakan sebuah Komentar Ariko Kami Dari Semua pada Blog Djakarta Tempo Doeloe milik Abah Alwi Shahab
Sering saya membayangkan suasana Jakarta pada zaman itu pastilah sangat berbeda jauh dibandingkan keadaan Jakarta hari ini, meskipun sejak dulu Batavia telah menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis seperti halnya Jakarta saat ini.
Dalam bayangan saya, untuk suatu kota yang menjadi ikon kebesaran dan kejayaan pada zamannya, Batavia / Jakarta tempo dulu dibangun dan dikembangkan dengan perencanaan yang lebih baik serta dikelola jauh lebih baik pula. Pada masa-masa tersebut semuanya lebih tertata rapi, lebih Indah dan lebih nyaman bila dibandingkan dengan keadaan kota Jakarta hari ini yang menjadi penerus cerita kemegahan kota terbesar di Indonesia itu di era Global ini.
Dahulu Batavia selain sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan bisnis , kota ini juga menjadi tempat yang masih ramah untuk ditinggali bahkan menjadi tempat yang menarik dan nyaman bagi para pelancong dari eropa maupun yang datang dari benua lain.
Saat itu udara Jakarta pasti masih jauh lebih sejuk dengan lingkungan kota yang tertata dan terawat dengan baik, sehingga orang-orang pun dapat menikmati alam Batavia dengan berjalan kaki, bersepeda, berkuda atau menggunakan rakit/perahu di kali-kali atau kanal di Jakarta yang bersih terpelihara.
Tapi tengoklah keadaannya sekarang, Jakarta tumbuh menjadi kota besar yang tak lagi mampu menampilkan daya tarik alaminya. Jakarta terus dibesarkan dalam kegersangan dan kesemrawutan. Kepadatan dan kesemrawutan di jalan rayanya, kesemrawutan dan kekumuhan di banyak lingkungan tempat tinggal warganya, kekumuhan kali-kalinya, kehilangan banyak pohon pelindung dan taman-taman kotanya. Belum cukup untuk berhenti sampai disitu untuk terus meratapi kota ini, keburaman kota Jakarta makin diperparah dengan tak terpeliharanya fasilitas-fasilitas umum yang dibangun dengan biaya yang tidak sedikit untuk kemudian hanya dibiarkan terbengkalai atau sekedar mendapatkan perawatan separuh hati.
Meskipun berasal dari daerah yang lumayan jauh dan menjadi pendatang di kota Jakarta, tapi saya selalu tertarik dan penasaran untuk mendengarkan cerita tentang Batavia / Betawi / Jakarta Tempo Doeloe.
Tersisa sangat sedikit sekali, kalau tidak boleh dibilang tidak ada lagi keindahan alami yang tersisa dari Jakarta tempo dulu. Perpaduan kota besar sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis dengan keasrian alam yang terjaga, saat ini sudah tak terlihat lagi. Sebagai pengganti pemandangan gunung yang menentramkan yang dulu masih dapat dilihat dari kejauhan, kini pandangan mata kita selalu membentur gunung-gunung beton yang berbeda jauh sifatnya dengan gunung-gunung alam sebagai lumbung air. Gedung pencakar langit ini justru mengeringkan air tanah sehingga makin perut bumi Jakarta makin tergerus. Tak ketinggalan pula atas nama pengembangan dan pembangunan kota Jakarta, pohon-pohon yang dulu merindangkannya makin banyak yang ditebangi sementara kali dan kanal ikut pula dimatikan oleh limbah beracun dan tumpukan sampah.
Semakin bertambah lagi kedukaan ketika kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang kita akan begitu sulit untuk bernostalgia atau menelusuri kisah Batavia dari peninggalan-peninggalannya. Bangunan-bangunan dengan seni arsitektur menawan yang bernilai sejarah tinggi dengan gampangnya diratakan dengan tanah untuk pengembangan kota Jakarta yang tamak lahan.
Akankan kita terus membangun kota Jakarta dengan cara-cara yang tidak bijaksana seperti saat ini ? Karena keserakahan dan demi memuaskan ‘kepentingan dan kesenangan’ segelintir orang, kita lakoni pembangunan tanpa fikir panjang, pembangunan yang diciptakan menggunakan rekayasa dangkal dan alasan konyol sampai-sampai menutupi kecerdasan akal dan keluhuran hati.
Apakah sepadan kehilangan kenangan atas keindahan, keasrian yang tersimpan dalam kejayaan Jakarta tempo dulu dengan wajah penggantinya sekarang ini ?
Apakah adil dan menguntungkan saat dinilai dari banyak sisi atas harga pertukaran Batavia serta Jakarta tempo dulu dengan kota Jakarta ku hari ini ?
Banyak orang tak pernah bosan berkunjung dan mengulang-ulang membaca tulisan di Blog Jakarta Tempo Doeloe serta membaca kolom Bandar Jakarta atau mencari informasi dari sumber bacaan lainnya, bahkan melakukan pencarian informasi dengan langsung mendatangi tempat-tempat yang menyimpan sisa sejarah dan kenangan pesona Batavia / Jakarta Tempo Dulu, meskipun mereka tahu bahwa tiap kali kembali ke ke Blog tersebut atau menemukan bacaan baru di Kolom Jakarta Tempo Dulu maka kerinduan, keprihatinan dan kesedihan akan semakin dalam atas kenangan yang ditinggalkan oleh kota kita Jakarta Tempo Dulu. Kenangan yang tak akan pernah mati meski kebodohan pelakon zaman telah menguburkan jasadnya.