Rabu, 15 Februari 2012

Djakarta Tempoe Doeloe




Tulisan ini merupakan sebuah Komentar Ariko Kami Dari Semua pada Blog Djakarta Tempo Doeloe milik Abah Alwi Shahab

Sering saya membayangkan suasana Jakarta pada zaman itu pastilah sangat berbeda jauh dibandingkan keadaan Jakarta hari ini, meskipun sejak dulu Batavia telah menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis seperti halnya Jakarta saat ini.

Dalam bayangan saya, untuk suatu kota yang menjadi ikon kebesaran dan kejayaan pada zamannya, Batavia / Jakarta tempo dulu dibangun dan dikembangkan dengan perencanaan yang lebih baik serta dikelola jauh lebih baik pula. Pada masa-masa tersebut semuanya lebih tertata rapi, lebih Indah dan lebih nyaman bila dibandingkan dengan keadaan kota Jakarta hari ini yang menjadi penerus cerita kemegahan kota terbesar di Indonesia itu di era Global ini.

Dahulu Batavia selain sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan bisnis , kota ini juga menjadi tempat yang masih ramah untuk ditinggali bahkan menjadi tempat yang menarik dan nyaman bagi para pelancong dari eropa maupun yang datang dari benua lain.

Saat itu udara Jakarta pasti masih jauh lebih sejuk dengan lingkungan kota yang tertata dan terawat dengan baik, sehingga orang-orang pun dapat menikmati alam Batavia dengan berjalan kaki, bersepeda, berkuda atau menggunakan rakit/perahu di kali-kali atau kanal di Jakarta yang bersih terpelihara.

Tapi tengoklah keadaannya sekarang, Jakarta tumbuh menjadi kota besar yang tak lagi mampu menampilkan daya tarik alaminya. Jakarta terus dibesarkan dalam kegersangan dan kesemrawutan. Kepadatan dan kesemrawutan di jalan rayanya, kesemrawutan dan kekumuhan di banyak lingkungan tempat tinggal warganya, kekumuhan kali-kalinya, kehilangan banyak pohon pelindung dan taman-taman kotanya. Belum cukup untuk berhenti sampai disitu untuk terus meratapi kota ini, keburaman kota Jakarta makin diperparah dengan tak terpeliharanya fasilitas-fasilitas umum yang dibangun dengan biaya yang tidak sedikit untuk kemudian hanya dibiarkan terbengkalai atau sekedar mendapatkan perawatan separuh hati.


Meskipun berasal dari daerah yang lumayan jauh dan menjadi pendatang di kota Jakarta, tapi saya selalu tertarik dan penasaran untuk mendengarkan cerita tentang Batavia / Betawi / Jakarta Tempo Doeloe.

Tersisa sangat sedikit sekali, kalau tidak boleh dibilang tidak ada lagi keindahan alami yang tersisa dari Jakarta tempo dulu. Perpaduan kota besar sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis dengan keasrian alam yang terjaga, saat ini sudah tak terlihat lagi. Sebagai pengganti pemandangan gunung yang menentramkan yang dulu masih dapat dilihat dari kejauhan, kini pandangan mata kita selalu membentur gunung-gunung beton yang berbeda jauh sifatnya dengan gunung-gunung alam sebagai lumbung air. Gedung pencakar langit ini justru mengeringkan air tanah sehingga makin perut bumi Jakarta makin tergerus. Tak ketinggalan pula atas nama pengembangan dan pembangunan kota Jakarta, pohon-pohon yang dulu merindangkannya makin banyak yang ditebangi sementara kali dan kanal ikut pula dimatikan oleh limbah beracun dan tumpukan sampah.

Semakin bertambah lagi kedukaan ketika kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang kita akan begitu sulit untuk bernostalgia atau menelusuri kisah Batavia dari peninggalan-peninggalannya. Bangunan-bangunan dengan seni arsitektur menawan yang bernilai sejarah tinggi dengan gampangnya diratakan dengan tanah untuk pengembangan kota Jakarta yang tamak lahan.

Akankan kita terus membangun kota Jakarta dengan cara-cara yang tidak bijaksana seperti saat ini ? Karena keserakahan dan demi memuaskan ‘kepentingan dan kesenangan’ segelintir orang, kita lakoni pembangunan tanpa fikir panjang, pembangunan yang diciptakan menggunakan rekayasa dangkal dan alasan konyol sampai-sampai menutupi kecerdasan akal dan keluhuran hati.

Apakah sepadan kehilangan kenangan atas keindahan, keasrian yang tersimpan dalam kejayaan Jakarta tempo dulu dengan wajah penggantinya sekarang ini ?
Apakah adil dan menguntungkan saat dinilai dari banyak sisi atas harga pertukaran Batavia serta Jakarta tempo dulu dengan kota Jakarta ku hari ini ?

Banyak orang tak pernah bosan berkunjung dan mengulang-ulang membaca tulisan di Blog Jakarta Tempo Doeloe serta membaca kolom Bandar Jakarta atau mencari informasi dari sumber bacaan lainnya, bahkan melakukan pencarian informasi dengan langsung mendatangi tempat-tempat yang menyimpan sisa sejarah dan kenangan pesona Batavia / Jakarta Tempo Dulu, meskipun mereka tahu bahwa tiap kali kembali ke ke Blog tersebut atau menemukan bacaan baru di Kolom Jakarta Tempo Dulu maka kerinduan, keprihatinan dan kesedihan akan semakin dalam atas kenangan yang ditinggalkan oleh kota kita Jakarta Tempo Dulu. Kenangan yang tak akan pernah mati meski kebodohan pelakon zaman telah menguburkan jasadnya.

Senin, 13 Februari 2012

Obyek Wisata di Ancol


Dikelola oleh anak perusahaannya terutama oleh PT Taman Impian Jaya Ancol (“TIJA”) yang meliputi pengelolaan kawasan pariwisata (rekreasi dan resor) dan kegiatan usaha penunjang: entertainment, konvensi dan wisata belanja. PJAA mengelola “area pariwisata terintegrasi” seluas 552 Ha, lokasi dekat pantai, terbaik di Jakarta dengan kemudahan akses melalui jalan tol, busway dan kereta api.Pantai dan Taman

Taman dan pantai merupakan wahana hiburan yang menawarkan kesegaran suasana pantai bagi semua kalangan dan usia. Pantai dan Taman memiliki 5 pantai (Pantai Festival, Indah, Elok, Ria dan Carnival Beach Club) dan Danau Impian, sepanjang kurang lebih 5 km, dengan promenade sepanjang 4 km.

Dunia Fantasi

Dunia Fantasi yang dibuka untuk umum pada 29 Agustus 1986, dan popular dengan sebutan Dufan, merupakan theme park pertama yang dikembangkan oleh Ancol. Dufan merupakan pusat hiburan outdoor terbesar di Indonesia yang memanjakan pengunjung dengan Fantasi Keliling Dunia, melalui berbagai content wahana permainan berteknologi tinggi, yang terbagi dalam 8 kawasan, yaitu: Indonesia, Jakarta, Asia, Eropa, Amerika, Yunani, Hikayat dan Balada Kera. Perseroan juga menjadikan Dufan sebagai salah satu pusat edutainment yang ada di Ancol yakni dengan dibukanya Fisika Dunia Fantasi (Fidufa) dan Pentas Prestasi. Dufan telah memiliki sertifikat ISO 9001:2008 sejak 2009.

Atlantis Water Adventure
Atlantis Water Adventure (AWA) merupakan theme park kedua yang dikembangkan oleh Ancol dan berdiri diatas lahan seluas 5 hektar. AWA merupakan hasil revitalisasi Taman Rekreasi Air Gelanggang Renang Ancol yang akan memberi pengunjung petualangan wisata air dengan 8 kolam utama, yaitu: Poseidon, Antila, Plaza Atlas, Aquarius, Octopus, Atlantean, dan Kiddy Pool.

Gelanggang Samudra
Gelanggang Samudra Ancol ("Samudra") merupakan theme park ketiga yang dikembangkan oleh Anco. Samudra merupakan edutainment theme park bernuansa konservasi alam yang memberikan pengalaman kepada pengunjung untuk mengenal lebih dekat dan menyayangi aneka satwa, antara lain lumba-lumba, paus putih, anjing laut, dan lain-lain.

Sea World
Sea World adalah underwater aquarium pertama dan satu-satunya di Indonesia, dengan area seluas 2 Ha (dikelola dengan format BOT).

Putri Duyung Cottages
Penginapan tepi pantai bergaya unik berbentuk cottages dengan 133 kamar ini memiliki berbagai fasilitas khusus, seperti : ruang serba guna, ruang rapat dan lokasi pesta pantai. Putri Duyung juga menawarkan fasilitas olahraga, seperti kolam renang, tenis meja, sepeda, lapangan tenis, serta lapanan voli pantai. Arsitektur artistik Putri Duyung Ancol kental dengan perpaduan gaya posmo dan romantisme Indonesia Timur, ditata selaras dengan lingkungan pantai untuk menciptakan suasana yang berselera dan eksotik.

Padang Golf Ancol
Padang Golf bernuansa pantai di tengah-tengah kawasan wisata yang memiliki 18 hole dengan desain lapangan unik. Lokasinya strategis dan mudah dicapai dari seluruh penjuru Jakarta.

Marina
Dermaga kapal pesiar (speed boat dan yacht) bergaya kosmopolitan yang pertama dan terlengkap di Indonesia, dirancang untuk tempat berlabuh kapal pesiar berbagai ukuran. Marina juga berfungsi sebagai pusat olahraga laut, ski air, wind surfing, diving, sailing, serta pelabuhan kapal pesiar untuk menuju Kepulauan Seribu. Marina dilengkapi dengan fasilitias dermaga, marine band, pompa bensin, dermaga bongkar muat, agen perjalanan wisata dan olahraga bahari.

Pasar Seni
Pasar Seni merupakan pusat kegiatan seni dan kerajinan yang memberikan inspirasi serta wawasan bagi penikmat dan kolektor seni. Pasar seni merupakan wujud nyata kepedulian Ancol atas kelangsungan hidup para seniman berbakat. Pasar Seni juga dilengkapi dengan Galeri Pameran (North Art Space/NAS), Toko Cinderamata, Plaza dan Panggung Pertunjukkan Seni.

Pulau Bidadari
Sebuah pulau untuk kalangan menengah di Kepulauan Seribu yang dapat ditempuh dalam waktu 20 menit dari Marina. Pulau Bidadari memiliki 49 cottages yang terdiri dari 23 unit tipe deluxe, 20 unit tipe family, 3 unit tipe family suite, dan 3 unit tipe suite serta memiliki sarana olahraga, 2 aula serba guna, restoran, bar dan toko cinderamata. Sebuah atraksi unik, yakni wahana berenang bersama dengan lumba-lumba (swimming with the dolphin), bisa dinikmati di Pulau Bidadari.Ritel

Lebih dari 30 kios penjualan souvenir, makanan dan minuman.

Hailai Executive Club
Hailai merupakan klub eksekutif bertaraf internasional yang dilengkapi dengan restoran yang menyediakan 3.000 kursi, sarana olahraga, dan hiburan. Hailai dikelola oleh PT Philindo Sporting Amusement and Tourism Corporation yang bekerja sama dengan PT Sarana Ria.

Kereta Gantung
Gondola (sky lift) merupakan kereta gantung yang menghubungkan tempat wisata satu dengan yang lainnya di kawasan Ancol yang terbentang sepanjang kurang lebih 2,4 km dari Pantai Festival hingga area parker AWA. Gondola Ancol memiliki 37 unit gondola dengan kapasitas enam orang per gondola dan tiga stasiun pemberhentian. Gondola Ancol merupakan unit usaha hasil kerjasama Ancol dengan PT Karsa Surya Indonesia (KSI).

Bowling
Fasilitas olahraga bowling bertaraf internasional dengan 60 lintasan.

Wisata Kuliner
Fasilitas resto dan kafe

Sejarah Ancol


Taman Impian Jaya Ancol merupakan sebuah objek wisata di Jakarta Utara. Sebagai komunitas pembaharuan kehidupan masyarakat yang menjadi kebanggaan bangsa. Senantiasa menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik melalui sajian hiburan berkualitas yang berunsur seni, budaya dan pengetahuan, dalam rangka mewujudkan komunitas 'Life Re-Creation' yang menjadi kebanggaan bangsa.



Sejak awal berdirinya di tahun 1966, Ancol Taman Impian atau biasa disebut Ancol sudah ditujukan sebagai sebuah kawasan wisata terpadu oleh Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemda DKI menunjuk PT Pembangunan Jaya sebagai Badan Pelaksana Pembangunan (BPP) Proyek Ancol yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan peningkatan perekonomian nasional serta daya beli masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan perusahaan yang semakin meningkat di tahun 1992 status Badan Pelaksana Pembangunan (BPP) Proyek Ancol diubah menjadi PT Pembangunan Jaya Ancol sesuai dengan akta perubahan No. 33 tanggal 10 Juli 1992 sehingga terjadi perubahan kepemilikan dan prosentase kepemilikan saham, yakni 20% dimiliki oleh PT Pembangunan Jaya dan 80% dimiliki oleh Pemda DKI Jakarta.

Pada 2 Juli 2004 Ancol melakukan “go public” dan mengganti statusnya menjadi PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., dengan kepemilikan saham 72% oleh Pemda DKI Jakarta dan 18% oleh PT Pembangunan Jaya dan 10% oleh masyarakat. Langkah “go public” ini dilakukan untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan, karena akan lebih terkontrol, terukur, efisien dan efektif dengan tingkat profesionalisme yang tinggi serta menciptakan sebuah Good & Clean Governance. Kinerja dan citra yang positif ini akan menjadikan perusahaan terus tumbuh dan berkembang secara sehat pada masa depan. PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk juga melakukan upaya repositioning dengan diluncurkannya logo Ancol yang baru pada 10 Juli 2005. Perubahan tersebut tidak semata mengganti logo perusahaan, tetapi juga untuk memacu semangat dan budaya perusahaan secara keseluruhan.


Monas..


Monumen Nasional (Monas) berada dipusat kota Jakarta yaitu di Lapangan Monas Jakarta Pusat, atau ke arah selatan dari Istana Negara di Jakarta.

Tugu Peringatan Nasional yang satu ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.

Dibangun pada tahun 1959 dan selesai pada tahun 1960. Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 meter (433 kaki) yang dibangun di areal seluas 80 hektar.


R.M. Soedarsono

Tugu ini diarsiteki oleh R.M. Soedarsono dan Friedrich Silaban (arsitek Mesjid Istiqlal), dengan konsultan Ir. Rooseno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Monas mengalami lima kali pergantian nama, yang pertama yaitu Lapangan Gambir karena dulu merupakan daerah Pasar Gambir.

Lalu ganti nama lagi menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.

Disekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga.

Friedrich Silaban (1912-1984) Bung Karno menjulukinya sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal dan pembangunan Monas... Friedrich Silaban, seorang penganut Kristen Protestan yang taat kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, wafat dalam usia 72 tahun pada hari Senin, 14 Mei 1984 RSPAD Gatot Subroto Jakarta, karena komplikasi beberapa penyakit yang dideritanya.

Pada hari-hari libur, seperti hari Minggu atau hari libur sekolah, banyak masyarakat yang berkunjung kesini.

Dalam masa kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, malah semakin banyak orang datang kesini.

Monas adalah Indonesia, Indonesia adalah negara bermacam kultur, ras dan agama – Negara Kesatuan, dan monas juga melambangkan “Bhinneka Tunggal Ika” atau “Unity in Diversity“.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi.

Selain itu di Kompleks Taman Monas juga terdapat diorama tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Terlihat pengunjung sedang antri di Monas(Minggu 30-11-2011)

Tempat itu bisa dilihat di bawah tanah dekat monumen ini, tepatnya dekat dengan patung Pangeran Diponegoro.

Para pengunjung dapat naik hingga keatas dengan menggunakan elevator. Hingga saat ini sejak pagi hari apalagi di tiap akhir Minggu, antrian naik ke tugu Monas kian ramai.

Lidah api atau obor diatas tugu monas ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaan.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 38 kg.

Dan 28 kg di antaranya adalah sumbangan dariTeuku Markam , salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.

Jakarta

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia/Batauia, atauJaccatra (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972).

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 9.588.198 jiwa (2010). Wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.

Nama Jakarta digunakan sejak masa penjajahan Jepang tahun 1942, untuk menyebut wilayah bekas Gemeente Batavia yang diresmikan pemerintah Hindia Belanda tahun 1905. Nama ini dianggap sebagai kependekan dari kata Jayakarta (Dewanagari जयकृत), yang diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. Nama ini biasanya diterjemahkan sebagai "kota kemenangan" atau "kota kejayaan", namun sejatinya artinya ialah "kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha".

Bentuk lain ejaan nama kota ini telah sejak lama digunakan. Sejarawan Portugis João de Barros dalam Décadas da Ásia (1553) menyebutkan keberadaan "Xacatara dengan nama lainCaravam (Karawang)". Sebuah dokumen (piagam) dari Banten (k. 1600) yang dibaca ahli epigrafi Van der Tuuk juga telah menyebut istilah wong Jaketra, demikian pula namaJaketra juga disebutkan dalam surat-surat Sultan Banten dan Sajarah Banten (pupuh 45 dan 47) sebagaimana diteliti Hoessein Djajadiningrat. Laporan Cornelis de Houtmantahun 1596 menyebut Pangeran Wijayakrama sebagai koning van Jacatra (raja Jakarta)